Setiap orang memiliki cara berbeda dalam melakukan perayaan. Ada yang memilih untuk mengulang kebiasaan, ada pula yang menghadirkan hal baru agar tidak terasa monoton. Begitu pula dengan Imlek. Para umat merayakannya dengan cara yang beragam. Ada yang berupaya menjaga warisan masa lalu, ada juga yang memasukkan unsur modern. Perbedaan cara merayakan ini pun memunculkan sebuah pertanyaan: apakah perbedaan cara perayaan memengaruhi makna dari Hari Raya Imlek itu sendiri?
Tidak banyak yang berubah dari struktur bangunan asli Vihara Mahacetya Dhanagun, yang dikenal juga sebagai Kelenteng Hok Tek Bio. Bangunan yang telah berdiri sejak 1672 ini terletak di Jalan Surya Kencana No. 1, Kota Bogor, Jawa Barat. Menemukannya tidak sulit, tepat berada di sisi kiri jalan setelah melintasi gapura utama, menjadikannya bangunan pertama yang menyambut pengunjung di daerah pecinan Surya Kencana. Pemerintah setempat menetapkan vihara ini sebagai cagar budaya, mengingat bangunan ini termasuk salah satu vihara tertua di Indonesia, sekaligus simbol warisan budaya Tionghoa-Indonesia.
Hingga kini, Vihara Dhanagun masih aktif digunakan sebagai tempat beribadah dan merayakan hari besar. Usianya lebih dari 300 tahun, tiang-tiang kayunya masih kokoh berdiri, selaras dengan relief yang menghias kedua sisi ruang utama. Pada bagian tengah, terdapat tiga altar yang dikhususkan untuk Hok Tek Ceng Sin (sebagai Tuan Rumah atau Dewa utama), Kwan Seng Tek Kun, dan Dewi Kwan Im. Ketiganya menjadi pusat doa dan harapan umat yang datang. Menjelang Imlek ini, altar-altar tersebut tampak lebih semarak dari biasanya. Persembahan buah tersusun rapi lengkap dengan pelita yang dinyalakan dan hio (dupa atau wewangian yang dibakar) yang mengepul memenuhi ruangan. Namun, ada satu hal yang paling mencuri perhatian, yaitu kue keranjang yang disajikan dengan beberapa cara berbeda.

“Kue keranjang di sini cuma dihias pakai bungkusan merah. Tapi tergantung orangnya, ada yang suka dihias, ada yang suka dibungkus daun pisang. Tapi kalau orang dulu lebih senang dengan yang dibungkus daun pisang, lebih tradisional,” jelas Erhua, salah seorang penjaga vihara, ketika ditanya mengenai penyajian kue keranjang yang bermacam-macam.
Selain cara penyajian kue keranjang, lampion yang tergantung di langit-langit vihara juga memiliki perbedaan yang signifikan. Sebagian berkelip terang dengan bantuan lampu LED, beberapa yang lain tetap menggunakan bentuk tradisional. “Kalau maknanya masih sama, nggak mengurangi kesakralan,” tutur Erhua. Ia sendiri tidak mempermasalahkan adanya lampion dengan sentuhan modern, selama tidak mengurangi nilai dan filosofi di baliknya. Perempuan yang sudah bekerja di Vihara Dhanagun selama tiga tahun itu juga menjelaskan bahwa lampion pada dasarnya bukan sekadar hiasan untuk memeriahkan suasana Imlek. Terdapat doa dan harapan agar keberuntungan dan rezeki dilimpahkan pada tahun yang baru.
Lebih lanjut, Erhua memberikan contoh bagaimana perkembangan zaman tidak semerta-merta menghapus kesakralan atau makna dari perayaan Imlek. Ia bercerita bagaimana dahulu, altar-altar umumnya hanya menggunakan lilin sebagai pencahayaan utama. Namun, seiring berkembangnya zaman, banyak lilin yang diganti dengan lampu, meski bentuknya tetap menyerupai lilin. Hal ini dilakukan sebagai tindakan preventif untuk menghindari kecelakaan karena lilin rentan tersenggol anak-anak dan lansia, namun tetap mempertahankan makna di balik penggunaan lilin. “Tetap ada maknanya, cuma alatnya saja yang berbeda.” Ia menjelaskan.
Meski kuat arus zaman begitu cepat, tak dapat dipungkiri bahwa masih terdapat tradisi yang harus dilestarikan dan dijalankan. Beberapa di antaranya adalah mandi rupang dan ayak abu.
Mandi rupang merupakan proses membersihkan rupang alias patung para dewa-dewi yang berada di altar. Kegiatan ini dilakukan satu tahun sekali, tepatnya menjelang Hari Raya Imlek. Ketika prosesi ini berlangsung, rupang dewa-dewi diturunkan dari altar untuk dibersihkan menggunakan air. Lantas, rupang-rupang tersebut akan dikenakan pakaian baru dengan motif yang berbeda dari tahun sebelumnya. “Setiap tahun tuh ganti baju. Tapi dengan warna dan model yang sama. Bedanya cuma di bagian hiasan doang,” terang Erhua.
Erhua menjelaskan tradisi ayak abu, yakni pembersihan abu sisa pembakaran hio di hio lo (tempat menancapkan hio), yang dilakukan setahun sekali menjelang perayaan Imlek. “Kita tuh ada proses ayak abu. Setelah setahun, hio lo pasti sudah penuh dengan sisa batang hio yang sudah dibakar. Walaupun yang kelihatan pasti dicabutin, tapi kadang ada beberapa yang makin lama makin tertutup abu. Jadi kemarin diayak biar bersih.”
Mulai dari kue keranjang yang masih dihias daun pisang dan hiasan yang lebih variatif, lampion tradisional dan lampion modern, hingga lilin asli yang berubah menjadi lampu elektrik. Perubahan dalam perayaan Imlek memang tak terelakkan. Namun, sebagaimana yang ditekankan Erhua, perubahan itu tidak serta-merta mengurangi makna dari Imlek itu sendiri. Justru, sentuhan modern dalam perayaan Imlek dapat menjadi jembatan bagi generasi muda untuk tetap merasa dekat dengan tradisi. Lampion yang berkelip, dekorasi yang lebih variatif, bahkan kemudahan berbagi angpao secara digital, bisa menjadi pintu masuk agar anak muda tertarik mengenal lebih dalam nilai-nilai di baliknya. “Sebenarnya tergantung bagaimana cara pandang orang terhadap kemodernan itu,” ujar Erhua. “Kalau kita bisa mencari cara untuk menggunakan kemodernan itu, tradisi atau budaya kita akan tetap berjalan tanpa harus dipaksakan.”
Pada akhirnya, Imlek dimaknai berbeda oleh setiap orang. Perbedaan itu bukanlah batasan apalagi penghalang. Justru di sanalah letak kekayaan makna; suatu perayaan dapat dirayakan dengan berbagai cara tanpa kehilangan hakikatnya.

Terlepas dari itu, ramai perayaan Imlek yang konsisten meriah memang tak pernah padam di Surya Kencana. Sehari sebelum hari raya, warga lokal maupun pengunjung sudah terlihat memadati kawasan pecinan tersebut. Berbagai penampilan budaya dari para pemuda dan pemudi, pertunjukan Tari Liong, Barongsai, hingga pementasan tari bertemakan nusantara yang menarik perhatian siapa saja. Mulai sore hingga malam hari, masyarakat akan turun keluar, bersua dan bergembira, berbagi cinta dan harapan menyambut tahun kuda, beribadah di vihara berhiaskan makna, semuanya tanpa peduli usia maupun asal dari mana. Hingga setelah tengah malam, semua akan kembali ke rumah masing-masing, melanjutkan peribadatan dengan tenang untuk mempersiapkan diri serta keluarga esok hari.

Selamat Hari Raya Imlek. Selamat merengkuh kehangatan dan suka cita. Semoga tahun yang baru membawa kesehatan, keberuntungan, dan kebahagiaan bagi mereka yang merayakan. Xīnnián kuàilè!




Tambahkan Komentar