“Nggak pulang lagi?”
Shafwa duduk di sisi Qais yang bergeming. Dari atas puing-puing reruntuhan, hanya ada angkasa seluas mata memandang. Sekilas nggak begitu menarik untuk disinggahi lebih sering daripada pulang. Lagipun, langit masih keruh dan berkabut seperti biasa—nggak ada cerah apalagi senja. Jadi, kenapa Qais betah berlama-lama di sana? Sudah hari ketiga dan Shafwa masih enggan bertanya.
“Kak Amir bilang bacaanmu paling bagus hari ini. Dia ingin kasih hadiah, tapi kamu malah buru-buru pulang duluan. Kayak dikejar setan.” Gadis itu mengeluarkan buku tulis yang tampak baru, kontras dengan warna usang di sekujur tas kulitnya.
“Buat kamu aja.” Qais bicara bahkan sebelum Shafwa mengulurkan benda seukuran tangan orang dewasa dalam genggamannya. “Lanjutkan tulis cerita tentang Hana dan mimpinya jadi dokter. Aku penasaran.”
“Intinya, dia berhasil.”
“Bagaimana bisa?”
“Bagaimanapun caranya,” canda Shafwa. Tanpa menoleh pun Qais bisa menerka sepasang mata yang diukir bulan sabit oleh pipi gadis itu saat tertawa. “Di cerita ini, universitas kota kita sudah buka pendaftaran lagi. Jadi Hana punya kesempatan kuliah, jadi dokter, dan beli baju baru untuk adiknya.”
“Hana itu… kamu, ya?”
Nggak ada jawaban. Untuk kali pertama, Qais mengalihkan pandangan dari cakrawala ke arah sosok yang duduk dua meter di sebelah tempatnya bersila. Shafwa membawa buku hadiah itu ke dalam dekapan sementara netranya menatap lurus ke arah sepatu yang bersimbah debu.
“Hana nggak cuma punya mimpi, dia berani.” Suara Shafwa seakan menelan duri. “Aku nggak. Aku punyanya harapan supaya besok nggak ditinggal siapa-siapa lagi.”
Seekor burung merpati menepi. Biasanya, Qais akan berlari menghampiri sampai burung itu kabur entah ke celah-celah tumpukan atap bekas bangunan tinggi atau mengepakkan sayap lebih kuat demi menjauh dari kehancuran kota ini. Namun kini, detik-detik itu terlewati hanya dengan keheningan yang ditelan Qais dan dipelihara Shafwa.
“Mangkanya, Qais jangan kemana-mana sampai ulang tahunku minggu depan, ya?”
. . .
Di dunia ini nggak ada yang abadi. Mama mengatakan itu pada Qais ratusan kali. Setiap salah satu teman dekatnya ditemukan tak bernyawa di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri. Setiap guru Qais di sekolah menutup majelis pada sore hari dan nggak kembali besok pagi. Setiap berhenti di salah satu persimpangan jalan menuju pasar karena selalu ada anak kucing nggak berdaya di antara kerikil dan mesiu bekas terbakar.
Di dunia ini nggak ada yang abadi. Baba mengatakan hal yang sama waktu rambut Mama tiba-tiba habis bukan karena dimakan usia. Usia Qais empat belas waktu satu-satunya dokter yang tersisa di rumah sakit dekat pengungsian mengaku mereka kehabisan obat kemoterapi untuk kanker darah. Jadi Baba pulang sambil menggendong Mama yang menggigit sakit di sekujur tubuhnya lewat diam. Meski begitu, malamnya Qais bisa mendengar tangis Mama yang menghilang begitu pagi datang—Mama dijemput Tuhan pulang.
Di dunia ini nggak ada yang abadi. Qais melafalkan kalimat itu sendiri kali ini. Dia baru menurunkan jerigen air ketika seorang wanita paruh baya di tenda pengungsian berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
“Tadi siang Shafwa tiba-tiba pingsan, langsung dibawa Amir dan bibinya ke rumah sakit.”
Nggak ada yang mau menerka bahwa Qais akan duduk di atas tanah tanpa alas kaki apalagi kado gantungan kunci. Ulang tahun Shafwa tinggal menghitung menit tapi lidah Qais sudah terlalu kelu dan hatinya meraung pilu. Pandangan pemuda itu kabur, isi kepalanya melebur sementara tangannya menggenggam lebih erat jemari seorang balita dalam pangkuan yang bertanya kenapa sang kakak perempuan tak kunjung menjawab pertanyaan soal janji esok pagi.
Shafwa. Shafwa yang paling banyak tertawa sambil meyakinkan Qais kalau masa depan adalah niscaya untuk siapa saja yang punya asa. Shafwa yang lembaran buku tulisnya dipenuhi cerita pendek dan puisi ternyata nggak diberi sempat untuk mengulang usia yang ketujuh belas kali. Shafwa yang menggendong adiknya melintasi perbatasan kini menyisakan potongan ingatan yang bertengkar dengan amarah tak berdaya di benak Qais.
“Sudah lama sekali, sekitar lima tahun.” Kak Amir duduk tanpa mengindahkan lumpur di tangan dan kakinya. “Mungkin itu juga kenapa Shafwa pernah bilang ada yang aneh di perutnya.”
Suara dentuman lain terdengar nyaring meski dari kejauhan. Zaid nggak terlihat ketakutan. Qais ingat Shafwa pernah meyakinkan pemuda kecil itu kalau misil diperlakukan langit sebagai hiasan. Sudah pasti ada cerita-cerita lain yang lebih menyenangkan sampai Zaid betah duduk memandangi makam kakaknya tanpa menangisi suara rudal yang memekakkan telinga. Dada Qais kian menyempit hanya dengan sekelebat bayangan di kepala.
“Kata dokter kemungkinan besar dari air kota yang tercemar. Lalu sel kankernya tumbuh cepat dan terlambat diobati.” Kak Amir menghembuskan napas kasar. “Pasti menakutkan sekali menahan semua sakit itu sendiri.”
“Bahkan hujan dari langit ini nggak ada bedanya dengan racun yang diburu manusia untuk tetap hidup.”
Qais memejamkan mata. Bersembunyi dari takdir yang dilempar ke wajahnya seakan ia bukan manusia dengan hak dikasihani. Bersembunyi dari keji si tak kasat mata yang merenggut orang tersayangnya dua kali. Sampai kapan kiranya semua ini? Qais nggak tahu dan sudah lama berhenti mencari tahu. Jejak sungai kecil membekas di pipi pemuda itu ketika air matanya kembali jatuh tanpa menunggu.
Dulu Mama, lalu Shafwa. Qais bahkan nggak berani mengira lebih banyak orang-orang di sekitarnya yang kehilangan bukan atas kendali mereka. Sebab manusia bukan angka. Sebab duka berbentuk apa saja sampai yang tak mampu ditulis dan digambar oleh yang tak merasa. Sebab kepergian salah satu dapat berarti runtuhnya langit dan bumi bagi siapa saja yang sedekat nadi. Maka Qais mengutuk nestapanya sekali lagi.
“Ada ini di tas Shafwa, sepertinya kamu harus baca.”
Kak Amir meraih Zaid yang setengah tertidur ke dalam rengkuhannya, meninggalkan Qais dan selembar kertas yang kusut karena terlipat ditemani lengang cahaya bulan.
. . .
Halo, Qais, terima kasih untuk rotinya pagi tadi. Aku bertanya-tanya, kamu dapat dari mana? Bukannya sudah habis dari kemarin, ya? Dari manapun itu, terima kasih!
Oh iya. Kamu bicara soal Hana dan kelanjutan ceritanya kemarin, kan? Kamu percaya Hana nggak akan putus asa atas semua mimpi yang dia rakit seorang diri. Kamu bertanya juga Hana dilahirkan atas nama siapa. Apakah ia representasi aku sebagai penulisnya? Atau seseorang yang bukan terinspirasi dari siapa-siapa?
Qais, aku menulisnya untuk kamu.
Aku tahu, meskipun kamu nggak menangis waktu itu, kepergian Baba pasti menyisakan ruang duka di hatimu juga. Kamu lebih sedikit bicara, binar di matamu juga meredup bersama waktu. Kamu lebih sering melihat langit seakan menunggu entah apa yang aku yakin tak boleh dibiarkan menggerogoti terlalu lama.
Jadi aku selalu duduk di sisimu. Siapa tahu kamu berkenan mengucap sepatah dua patah kata, dari sana sana aku lega—semoga kamu akan selalu baik-baik saja.
Hana hanya tokoh fiksi yang bisa aku ubah nasibnya sewaktu-waktu nanti.Tapi kita ini nyata. Senyata bintang malam yang nyaris tak terlihat lalu kamu bilang ingin memetik salah satu untuk dibawa pulang. Kita bernafas dan berjalan di atas muka bumi. Kita ada meski dunia terkadang lupa.
Qais, setiap dari kita akan menemukan akhir perjalanannya. Aku yakin Mama dan Baba bertemu dengan cara yang paling baik dan mulia. Aku yakin begitupun dengan semua guru dan teman kita. Aku ingin kamu juga.
Kabar baiknya, kamu nggak pernah berhenti mencintai Mama dan Baba. Kamu hanya belajar menyayangi mereka dengan cara berbeda namun sama besarnya.
Tetaplah di sini. Hidup untuk paragraf cerita Hana yang baru, untuk lebih banyak lagi kehidupan yang menunggu, untukku. Aku nggak percaya diri akan jadi yang tinggal paling lama, tapi kamu nggak boleh buru-buru meninggalkan kota yang akan selalu menyimpan harapanmu pada jantungnya.
Qais, kamu nggak akan kekurangan cinta apalagi mimpi. Aku akan menemani sekalipun sudah tak ada lagi yang tersisa di atas belahan bumi kita ini. Tak akan ada sepi, tak perlu ditakuti apapun lagi. Aku janji.
Penulis favoritmu,
Shafwa
Penulis: Azizah



Tambahkan Komentar