Bogor — Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama IPB University mendorong lahirnya generasi muda dengan bakat wirausahawan berbasis kampus yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menembus pasar global. Upaya tersebut diwujudkan melalui program Campuspreneur yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem kewirausahaan berorientasi ekspor.
Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, menegaskan bahwa program Campuspreneur terbuka bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia dan bertujuan mencetak mahasiswa yang siap menjadi eksportir maupun pelaku usaha. “Dari hulu hingga hilir akan kami fasilitasi, mulai dari pelatihan ekspor, desain produk, pameran dagang, hingga business matching dengan calon pembeli luar negeri,” ujar Budi.
Menurutnya, Kemendag juga memanfaatkan jaringan Atase Perdagangan (ATDAG) dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara untuk membantu memasarkan produk-produk eksportir muda Indonesia. Sebelum mengikuti pameran internasional, peserta akan difasilitasi untuk memperoleh calon pembeli sehingga peluang transaksi dapat meningkat.

Dukungan serupa disampaikan Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet. Ia menyebut program Campuspreneur sejalan dengan visi IPB sebagai techno-social entrepreneur university. “Program ini akan diintegrasikan dengan kurikulum sehingga aktivitas kewirausahaan mahasiswa dapat diakui sebagai bagian dari pembelajaran akademik,” katanya. IPB University juga mengembangkan berbagai program pendukung, seperti One Village One CEO, One Village One Exporter, dan Desa Ekspor untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu contoh keberhasilan mahasiswa dalam bidang ekspor ditunjukkan oleh PT Export Tani Nusantara yang didirikan mahasiswa dan alumni IPB University. Al Fiqie, selaku CEO PT Export Tani Nusantara, menyampaikan bahwa usaha ekspor ini sudah dirintis sejak duduk di bangku kuliah semester tiga. Jika awalnya mereka hanya mengirim satu kontainer produk per tiga bulan, kini bisnis tersebut berkembang pesat hingga mampu mengirimkan 5–6 kontainer produk per bulan.
Pencapaian terkini terlihat pada 12 Juni 2026, bertepatan dengan kegiatan Campuspreneur, PT Export Tani Nusantara baru saja mengekspor sekitar 54 ton pinang dengan nilai mencapai Rp2,2 miliar ke Bangladesh dan Maladewa. Sebelum itu, perusahaan tersebut juga telah berhasil memperoleh potensi transaksi senilai Rp. 33.000.000.000 setelah mengikuti pameran dagang di Cina, yang difasilitasi oleh Kemendag dan IPB. “Kami ingin mengembangkan produk turunan bernilai tambah sehingga yang diekspor tidak hanya bahan mentah, tetapi juga produk olahan yang memiliki daya saing lebih tinggi,” ujar Al Fiqie.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Export Tani Nusantara, Fadhil, menilai akses permodalan, kemampuan manajemen strategis, dan akses pasar masih menjadi kebutuhan utama bagi wirausaha muda. Ia juga mendorong mahasiswa untuk tidak takut mencoba dan gagal selama masih berada di lingkungan kampus. “Kesempatan terbaik untuk belajar adalah saat masih menjadi mahasiswa. Jangan takut gagal, karena kegagalan adalah bagian dari proses membangun usaha,” katanya.
Dukungan terhadap pengembangan eksportir muda juga datang dari komunitas mahasiswa. Wakil Ketua Exnity, komunitas ekspor di Sekolah Bisnis IPB University, Komang, mengatakan organisasinya berupaya membekali mahasiswa dengan pengetahuan dasar ekspor melalui webinar, kunjungan industri, dan berbagai program pembelajaran praktis. Menurutnya, keberanian mencoba, kemauan belajar, dan jiwa kewirausahaan merupakan kompetensi utama yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu bersaing di pasar global.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha, program Campuspreneur diharapkan dapat melahirkan lebih banyak eksportir muda Indonesia yang mampu mengoptimalkan potensi sumber daya nasional dan memperkuat daya saing ekonomi Indonesia di pasar internasional.
***
Reporter: Rika Nur Amanah, Najwa Aulia
Editor: Asni Kayla
Fotografer: Najwa Aulia




Tambahkan Komentar