Ada yang istimewa di masjid Al-Hurriyyah sore itu. Waktu berbuka masih lama, namun yang datang sudah melebihi jumlah normal pengunjung di hari biasa. Aula atas dan bawah tampak sesak dipenuhi banyak pengunjung yang sangat bersemangat menantikan narasumber Festival Ramadhan IPB di hari pertama. Mulai dari mahasiswa, ibu-ibu, warga sekitar, hingga masyarakat umum. Semua memiliki gelora yang sama untuk mendengarkan materi yang akan disampaikan oleh mantan calon presiden sekaligus akademisi tersohor, Anies Baswedan.
Festival Ramadhan IPB bukan acara baru yang asing di telinga mahasiswa. Event ini seakan sudah jadi agenda wajib setiap bulan Ramadhan. Badan Kerohanian Islam Mahasiswa IPB menganggap perlu adanya kegiatan istimewa untuk menjaga semangat beribadah para mahasiswa di bulan suci yang datangnya hanya satu tahun sekali. Festival Ramadhan IPB menjadi salah satu pendekatan kreatif yang diharapkan mampu memberikan dampak positif khususnya bagi mahasiswa maupun pihak eksternal yang turut ikut serta. Festival Ramadhan IPB tahun ini dilaksanakan selama dua hari dengan jarak satu minggu di antara hari pertama dan kedua. Yusuf Febryan, Wakil Ketua Pelaksana Festival Ramadhan IPB 2026, menjelaskan bahwa hal ini sejalan dengan konsep yang diusung panitia, yaitu ‘pulang lalu kembali’. Mahasiswa pulang dengan merefleksikan diri di hari pertama, lalu siap untuk kembali berperan di hari kedua.

Yusuf juga bercerita tentang bagaimana Anies Baswedan adalah target narasumber utamanya sejak awal. Penyelenggara salah satu mega proker bidang Syiar Kreatif ini melihat Anies sebagai seorang tokoh publik dengan pengalaman, latar belakang pendidikan, serta dasar agama yang dianggap relevan untuk menjadi teladan bagi mahasiswa maupun masyarakat pada umumnya. Tentu ada rasa pesimis saat memberanikan diri untuk menghubungi. Yusuf dan panitia bahkan mengiringi usaha mereka sambil merencanakan beberapa narasumber lain sebagai alternatif. Namun, tekad baik di bulan suci memang akan menemukan jawaban yang terbaik pula. “Qadarullah, entah apa yang dipikirkan Pak Anies waktu itu, tiba-tiba beliau konfirmasi bahwa bisa hadir. Bahkan sampai cancel kegiatan lain demi ke IPB,” tutur Yusuf. Ia juga menyinggung soal persahabatan Anies dengan mantan rektor IPB, Arif Satria, sejak sama-sama menjabat sebagai Ketua Senat di masa kuliah.
Menyapa Ramadhan tahun ini terasa sedikit berbeda dengan krisis yang tengah marak terjadi. Mulai dari krisis kepercayaan diri tiap pribadi, ekonomi, politik, hingga bicara soal integritas. Tema ‘Menepi di Tengah Krisis: Membaca Realitas Kepercayaan Publik’ dipilih Festival Ramadhan IPB di minggu pertama sebagai salah satu langkah merefleksikan ide mereka sekaligus mewakili keresahan para mahasiswa lainnya. “Negara kita sedang tidak baik-baik saja. Banyak informasi di luaran sana yang makin banyak dikonsumsi, makin bikin mumet. Maka dari itu, kami mengusung tema ini,” tutur Yusuf.

Tema yang kompleks dikemas apik dengan narasumber yang eksklusif. Yusuf menyadari betul banyaknya tantangan yang dihadapi panitia demi menyukseskan berlangsungnya acara ini. Namun, semua itu sebanding dengan antusiasme mahasiswa untuk datang dan mendengarkan materi yang disampaikan dua narasumber hebat di hari pertama, Anies Baswedan dan Rian Fahardhi. Meski waktu yang tersedia tak terlalu banyak, kedua narasumber berhasil membawakan perbincangan dengan suasana yang baik serta menjawab beberapa pertanyaan mahasiswa seputar krisis yang mereka alami.
Anies mendefinisikan krisis sebagai sesuatu yang sulit untuk ditangani, genting, beresiko, dan seringkali tak terduga meski memiliki banyak tanda. Selama acara, Anies juga berulang kali menekankan bahwa integritas harus dimiliki setiap individu dalam menghadapi krisis apapun, dan kampus harus menjadi tempat utama yang memfasilitasi hal ini. Kejujuran dan amanah harus dipegang erat-erat oleh mahasiswa untuk memperoleh mata uang masa depan, yaitu kepercayaan.
Melihat banyaknya krisis yang tengah terjadi di Indonesia, terutama krisis ekonomi dan politik, memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat: siapa lagi yang bisa dipercaya ketika pemerintah dan instansi yang seharusnya bertugas melindungi masyarakat malah menjadi pelaku utama sebagian besar kejahatan dan kerusakan yang ada? Skeptisme terhadap nasib negara kian menghantui kalangan mahasiswa. Namun, Anies percaya, Indonesia tidak akan pernah kekurangan anak muda dengan semangat kebaikan untuk masa depan bangsa. “Maka dari itu, kita harus turut serta menggaungkan suara kebaikan yang sampai saat ini masih kalah besar dengan suara sensasional,” kata Anies soal upaya mengembalikan optimisme mahasiswa. Mulai dari lingkungan sekitar maupun media sosial, suara sekecil apapun akan berdampak selama diniatkan demi kemaslahatan bersama.

Yusuf mewakili seluruh panitia berharap mahasiswa mampu mengambil hal-hal positif yang disampaikan oleh kedua narasumber. Thalabul ‘ilm alias menuntut ilmu tidak boleh berhenti selama bulan Ramadhan. Justru, bulan ini adalah ajang memperbanyak ibadah dengan motivasi atas ganjaran yang lebih dari hari biasanya. Salah satu bentuk ibadah yang juga merupakan kewajiban utama setiap manusia adalah menuntut ilmu, apalagi sebagai mahasiswa. Maka dari itu, semangat para pejuang pengetahuan tak boleh padam di bulan penuh keberkahan.
Marhaban Yaa Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga seluruh amal dan niat baik kita mendapatkan balasan pahala yang utama.




Tambahkan Komentar