Sebutir Harapan yang Tak Pernah Sampai ke Meja

“Kita mengenal harga butir putih itu, tetapi sering lupa bertanya berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk menanamnya.”

Ada sesuatu yang begitu sunyi dari sebuah benih ketika pertama kali jatuh ke tanah. Kecil, nyaris tak berarti, bahkan mungkin mudah hilang di antara jemari. Namun, bayang raga itu tetap menanamnya dengan hati-hati, seolah di dalam benda sekecil itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar tanaman. Barangkali sebuah harapan? Harapan yang tidak diucapkan, diam-diam diserahkan kepada tanah, lalu berkata “Semoga engkau tumbuh, cukup dan musim kali ini tidak terlalu kejam untukmu. Semoga Tuhan akan selalu melindungi perjalananmu dan juga jiwaku.”

Benih itu mulai mencari cahaya, sementara raga itu mulai akrab dengan penantian. Setia menunggu hujan yang tak selalu datang, matahari yang lebih bersinar dari biasanya, tumbuh tanpa tahu apakah kelak hasilnya akan sepadan dengan apa yang telah dikeluarkan. Di bawah terik yang membuat kulit menggelap, di antara lumpur yang melekat pada kaki, bayangan itu terus bekerja dengan keyakinan yang mungkin bahkan ia sendiri tidak mampu jelaskan. Sebab bertani barangkali memang sesederhana itu mungkin menanam sesuatu yang belum tentu berhasil, lalu tetap merawatnya seolah keberhasilan adalah sebuah janji. Katanya.

Sepersekian juta jiwa yang berada jauh dari sawah mungkin hanya mengenal hasil akhirnya. Harapan yang sudah bersih, ditimbang, dikemas dan memiliki angka yang mudah dibaca. Kita tahu berapa angka yang harus dikeluarkan untuk membawanya pulang. Kita tahu kapan angka itu naik dan kapan harus mencari pilihan yang lebih sedikit. Namun angka tidak pernah mampu menceritakan berapa kali tangan-tangan dari tanah harus menundukkan tubuhnya, berapa banyak keringat yang jatuh atau berapa malam yang dihabiskan dengan memikirkan jumlah angka untuk pupuk, benih, air, dan kemungkinan gagal panen.

Mungkin itulah yang paling getir dari perjalanan pangan? harapan baik sampai ke meja, tetapi orang yang menanamnya belum tentu menikmati hasil dari harapannya sendiri. Kita menyendok nasi tanpa pernah melihat tangan yang menanamnya. Kita mengeluhkan angka tanpa pernah tahu berapa banyak yang harus dikorbankan agar sebutir beras dapat lahir. Ada jarak yang panjang antara sawah dan meja makan, dan di sepanjang jarak itu, yang dibayar dengan senyum para petani perlahan menghilang.

Padahal mungkin, di balik setiap panen, ada harapan yang sangat sederhana. Seorang ibu yang ingin dapurnya tetap mengepul. Seorang ayah yang ingin anaknya terus sekolah. Sebuah keluarga yang ingin terbebas dari utang setelah musim panen. Tidak ada keinginan untuk memiliki dunia. Tidak ada cita-cita untuk menjadi kaya raya. Hanya ingin hidup sedikit lebih lapang dari musim sebelumnya.

Sebab pada akhirnya, yang tumbuh bukan hanya padi. Ada kesabaran yang mengakar, kecemasan yang disembunyikan, doa yang tidak terdengar, dan kehidupan yang dipertaruhkan sedikit demi sedikit. Barangkali itulah mengapa sebutir beras terasa begitu sederhana bagi kita, tetapi begitu panjang bagi mereka.

Mungkin itu pertanyaan yang paling lama tinggal setelah sepiring nasi habis. Bukan tentang berapa harganya, melainkan tentang siapa yang membayar harga sebenarnya. Sebab dibalik putihnya nasi yang mengepul, ada tangan yang pernah kotor oleh tanah, ada punggung yang pernah lelah oleh musim, dan ada seseorang yang pernah menanam harapan dengan keyakinan bahwa suatu hari nanti, apa yang tumbuh dari tanah akan cukup untuk membawanya pulang.

Sebagian tetap tertinggal di sawah terkubur bersama benih, larut bersama hujan, atau mengering bersama tanah. Pada akhirnya, mereka akan terus mengulang untuk membawa pulang sebutir harapan yang pada musim sebelumnya tak pernah sampai ke meja.

Reporter : Desta Fauziah, Ananda Ayu Pertiwi

Editor : Rahma Annisa

Redaksi Koran Kampus

Lembaga Pers Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor

Tambahkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.