Perkuliahan tahun akademik 2021/2022 dikabarkan dapat dilaksanakan secara tatap muka mulai Juli 2021. Hal ini dinyatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim seiring dengan berjalannya proses vaksinasi Covid-19 kepada tenaga pendidikan. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Sc. menanggapi bahwa kebijakan ini tidak bersifat wajib. Jika sudah siap dan kondisi telah membaik, perkuliahan tatap muka bisa dilakukan.
“Kami menyambut baik surat itu karena mahasiswa pun juga begitu. Tetapi, semuanya kami lakukan dengan penuh kecermatan dan kehati-hatian sehingga perlu menyiapkan banyak hal, termasuk schedule dan mekanisme proses pembelajaran,” ujar Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Sc.
IPB University sedang mempersiapkan skenario proses perkuliahan pada tahun akademik baru mendatang. Perkuliahan tatap muka ini kemungkinan akan menerapkan sistem hybrid dengan protokol kesehatan yang ketat. Pak Drajat mengungkapkan sistem ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan sistem ganjil-genap berdasarkan Nomor Induk Mahasiswa (NIM).
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan ini juga mengungkapkan bahwa perkuliahan tatap muka diprioritaskan untuk mahasiswa yang sedang mempersiapkan kelulusan dan mahasiswa yang belum pernah kuliah tatap muka di IPB University. Asrama PPKU IPB kemungkinan juga akan dibuka dengan fasilitas 1 kamar/mahasiswa. Asrama ini akan diprioritaskan bagi mahasiswa yang memiliki keterbatasan finansial.
“Kita siap melakukan itu, tetapi secara bertahap dan tidak mau gegabah. Nomor satu paling penting adalah kesehatan sehingga apapun keputusan nanti akan memperhatikan kesehatan,” jelasnya.
Drajat kembali menegaskan bahwa skenario itu belum menjadi sebuah keputusan dan sedang mencari jalan yang terbaik untuk mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, dan lingkungan IPB University.
Ilustrator: Janisworo Windu N
Editor: Ikfanny Alfi Muhibbah Shalihah




Pak. Mohon dipikirkan kembali pak. Jika IPB offline, otomatis semua mahasiswa ke IPB. Mohon tunggu corona ini hilang. Keberadaan corona ini kami tidak tahu dan tidak dapat dideteksi oleh mata. Saya dari Sumatera Barat merasa belum siap ke pulau Jawa karena masih banyak corona di pulau Jawa. Pak, bersihkan dulu deh pak coronanya sampai ke akar-akarnya. Kalau kami ke Jawa terus terdampak corona, siapa nak bertanggung jawab pak. Kalau bisa diobati syukur pak. Kalau kami meninggal bagaimana pak. Asuransi meninggal tidak kami butuhkan pak, , sedihnya kedua ortu kami tidak bisa kami bendung. Yang kami butuhkan adalah keamanan negeri ini dari corona. Bagaimana corona ini mau hilang kalau warga dan pemerintahnya menganggap sepele seperti sebelum Indonesia belum terkena corona. Kata pak Jokowi, warga Indonesia itu daya tahan tubuhnya kuat-kuat karena sering minum empon-empon. Tapi buktinya masyarakat yang sering minum empon-empon itu yang banyak terkena corona.
Hey maka dari itu msh dipertimbangkan, kmgkinan bsr jg bakal di swab dlu klo emg jd tatap muka, juga di vaksin mgkn, jujur saya sndiri camaba yg pgnny tatap muka dong jelas, dpt brita gnian ya seneng. Tp ya kita liat aja nnti kputusan akhirny gmn, smoga yg trbaik, aamiin
Sama pengen tatap muka
Iya bener sebaiknya jangan dulu deh tahun ini kayanya,saya juga dari sumatera selatan
Sebelumnya saya berterimaksih atas info ini. Saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya jika jadi offline.
1. Harus ada satgas covid untuk membantu dan memberikan dukungan mahasiswa yg terkena covid saat di bogor karena tidak dapat dipungkiri virus masih ada dan hanya sebgian kecil yang sudah divaksin serta penyebaran dan dampaknya harus dipertimbangkan.
2. Sistem perkuliahan kalau ganjil genap mungkin akan sulit sepihak(banyak kuliah atau praktikum tiap sesi) jadi kalau menurut saya lebih baik menggunakan online untuk perkuliahan dan offline untuk praktikum agar pendidikan dapat lebih maksimal walaupun saya juga mengerti akan sulit di jadwal matkulnya🙏🙏
Sebelumnya saya sangat berterimaksih 🙏🙏
Saya tidak sabar dengan kebijakan ini,karena selama saya kuliah online saya seperti hanya belajar di youtube atau di internet,pembelajaran terasa sangat lemah belum lagi jaringan yang selalu hilang,tetapi dosen tetap memberikan kita catatan tidak hadir.
Tolong disegerakan🙏🏼.
Saya salah satu yg mendukung agar secepatnya tatap muka. Krrn klo kelamaan online maka kesehatan mental yg malah terancam. Kalo ngikuti virus corona. dg perkembangan jaman/tecnologi kedepan bakal makin terdeteksi virus2 baru yg sblmnya tdk kita ketahui. Jd itu adlh tantangan kita utk mengatasinya dg ilmu pengetahuan jg. Jgn malah menghindarinya aplg tkut.
Dengan kondisi pandemi corona spt ini, bener2 hrs dipertimbangkan lg rcn kuliah tatap muka. Sbb mahasiswa ipb itu berasal dr seluruh wilayah Indonesia. Mereka akan dtg dr bnyk daerah. Mgk saat kuliahnya bisa diatur oleh pihak manajemen ipb, tp saat kegiatan keseharian di tempat kost dg berbagai macam aktivitasnya apa bisa dikontrol? Apa bisa dijamin aman dr penularan covid? Mohon dipikirkan dan dipertibangkan lg dg bijak. Maaf. Ini sekedar saran.