Dua tiga kali sayuran hijau di piring kami diguyur bumbu racik pecel yang sudah diencerkan. Aroma kacang tanah dan jeruk limau seketika menyerbak begitu saus bumbunya bercampur di piring pesanan kami. Warnanya jadi merah kecoklatan, pekat gilingan bumbu kacang dan cabai merah.
Andi, si penjaga kedai, menceritakan bahwa bumbu pecel yang ia gunakan bukan hasil racikan sendiri. Ia sengaja datangkan bumbu racikan pecel itu langsung dari Madiun. “Rasanya beda, mas. Jika hasil meracik sendiri belum tentu sekasar ini kacangnya” tutur Andi menceritakan perihal bumbu pecelnya. Menurut Andi, kekhasan bumbu Pecel Madiun berasal dari hasil tumbukan kacang tanahnya yang kasar. Sudah enam bulan Andi menjalankan bisnis Kedai Pecel Pincuk. Selama itu pula Andi kerap bereksperimen dengan bumbu racik pecelnya untuk mendapatkan hasil terbaik. Selain bumbunya yang sengaja dibuat kasar, cara penyajiannya juga berbeda dari kedai pecel kebanyakan. Sesuai dengan namanya, nasi pecel disajikan dengan dipincuk, semacam dibungkus dengan daun pisang. Untuk yang tidak terbiasa dengan bungkus pincuk, Andi juga menyediakan piring anyaman sebagai alternatif.
Andi menuturkan, kedai pecel yang ia kelola ini adalah milik Hasan, alumni Fakultas Peternakan IPB angkatan 43. Sebelum berubah menjadi kedai Pecel, kedai yang berada di bilangan Pangkot ini menjajakan nasi kucing layaknya Angkringan Jogja.




Tambahkan Komentar